Pengikut

Sabtu, 27 Juni 2015

Undang aku ke rumah suciMu

Selamat menjalankan ibadah puasa ya.
Aduh, senang sekali rasanya diberi kesempatan menikmati indahnya Ramadhan. Ramadhan kali ini sangat spesial bagi saya, karena menjalankan ibadah sekaligus menjalankan tugas di batas negara (eaaa.....eaa...), hehe. Kebetulan saya harus melakukan tugas mengajar di PDD Politeknik Negeri Nunukan selama 2 minggu.

Sebenarnya sih sama aja dengan menjalankan puasa di tempat lain, sahur dan buka dijalankan seperti biasa, bedanya di sini nggak pernah lihat kurma, padahal kalau Ramadhan kan identik dengan kurma. Jadi kangen kurma (-_-)'.

Lupakan soal kurma, nanti dipuas-puasin kalau sudah kembali ke tanah air Makassar tercinta. Karena di Nunukan jadwal ngajar dan kegiatan akademik lainnya cukup padat, jadi puasanya gak berasa ujug- ujug udah buka aja. Kalau lagi weekend (seperti hari ini) kuhabiskan di kamar hotel sambil 'sedot' film- film atau merampungkan bahan ajar buat hari senin, sambil nonton acara gosip favorit saya tentunya, hehe.. Dan acara gosip kali ini menampilkan artis- artis yang lagi umrah. Aduh... tiba- tiba saja perhatian saya terfokus pada acara gosip tersebut. Bukan artisnya yang menarik perhatian saya, tapi perjalanan umrah artis tersebut.

Masjidil Haram (gambar: google)

Tiba- tiba ada bulir yang menetes tanpa terkontrol.
Masha Allah indah sekali tempat itu, surga sejati di muka bumi ini. Tempat yang luar biasa indahnya, kapan aku bisa ke sana??. Dari semua tempat yang ingin saya kunjungi di muka bumi ini, Masjidil Haram berada diurutan pertama.
Ya Allah undang saya ke rumah suciMu!!!. Walaupun keinginan begitu besar tapi kalau yang empunya tidak mengizinkan, niscaya kita tidak ada jalan ke sana. Banyak kan orang- orang muslim kaya tapi belum pernah ke sana.
Semoga saya menjadi salah satu orang beruntung yang dapat 'undangan' ke tempat indah yang suci ini, aamiin..

Rabu, 17 Juni 2015

'Bau' hutan Kalimantan mulai tercium

Selamat Menyambut Bulan Suci Ramadhan 1436 H.
Gak berasa udah puasa lagi, rasanya baru kemarin Lebaran. Ini Ramadhan pertama saya dengan status bekerja. Jadi selama ini pengangguran??. Bukan juga!. Kalau tahun lalu saya sementara menjalani Program Pendidikan Calon Pendidik Akademi Komunitas (PPCPAK) yang diadakan Dikti, tahun sebelumnya proses pencarian kerja dan tahun- tahun sebelumnya masih di zona nyaman sebagai mahasiswa :D.

Dan untuk Ramadhan kali ini saya mendapat tugas 'mulia' buat mengajar selama 2 minggu di PDD Politeknik Negeri Nunukan. Wah.... ini 'show' pertama saya sambil berpuasa. Deg- degan sih, walaupun ini bukan pengalaman pertama saya ngajar, tapi rasanya lebih mendebarkan karena PDD Politeknik Negeri Nunukan ini bukan kampus tempat saya ngajar, jadi ceritanya kita dosen tamu gitu bahasa kerennya, hehehhe...

Di luar honor yang cukup menggetarkan mata dan hati, hhahahha... yang bikin tambah semangat adalah ini kali pertama saya ke Kalimantan. Negeri dengan hutan yang sangat luas dengan aliran sungai di sana- sini. Mengingat Kalimantan hanya hijau yang terbayang. Sampai- sampai saya sudah bisa mencium aroma hutan hujan tropis Kalimantan yang segar dengan aroma lumut yang khas.
Wahh...jadi tidak sabar.

Karena penasaran denagn penampakan Kota Nunukan yang berada di Provinsi pemekaran Kalimantan Timur yaitu Kalimantan Utara, saya googling dulu supaya saya bisa berpuasa dengan tenang, heheheheh

Bandara Nunukan
Rencana saya akan berangkat Hari Minggu tanggal 21 Juni 2015. Masih lama ya... tapi  benar- benar sudah tidakkkk sabar..... Dari Makassar kami berangkat via Tarakan dan dilanjutkan lagi dengan penerbangan selama 20 menit ke Nunukan. Karena ini Ramadhan, yang saya risaukan itu soal tempat nongkrong buat ngabuburit, heheheh... Biassa jiwa muda naluri nongkrongnya masih tinggi, hehe.

Semoga juga ada mesjid yang letaknya dekat dari Hotel tempat saya menginap, supaya dekat kalau mau tarawih.

Penampakan Kota Nunukan
Terlihat masih sepi juga ya kotanya, tapi terlihat bersih dan rapih.
Semoga perjalanan nanti lancar dan 'show' saya berjalan lancar, aamiin :D


Senin, 08 Juni 2015

Naik gunung, jangan sama sembarang orang!

Hai... Hai.... Hai....
Selamat pagi....
Kayaknya hari ini saya terlalu dini ke kantor, masih lengang, biasanya saya ke kantor pas kantor udah rame, hahahha serasa kantor milik nenek moyang.
Sialnya lagi saluran TV kabel bermasalah, koran hari ini belum datang entah nyangkut di mana dan saya sedang malas untuk download film, ya udah curcol aja dulu. Saya mau sedikit cerita kisah mendaki gunung saya bersama teman- teman 'antah berantah'.

Beberapa tahun silam (seolah- olah udah lamaaaaaaa banget, padahal kejadiannya akhir 2012, hahahha) saat menjelang tahun baru 2013 saya iseng bergabung pada kegiatan yang diadakan sebuah KPA (Kelompok Pecinta Alam) dari salah satu kabupaten di provinsi saya. KPA ini memgumumkan di salah satu sosmed tentang kegiatan pendakian tujuh puncak pegunungan yang ada di Sulawesi Selatan dan terbuka bagi siapa saja yang ingin bergabung. Nah, karena saat itu saya sedang sedikit senewen sama teman- teman saya dan sedang ingin mencoba hal baru (biasa sedang labil) jadilah saya join dengan kegiatan ini (saya tidak sendirian, ada teman saya yang mau ikut, jadilah kami duo labil) dan langsung transfer untuk biaya perjalanan.

Mulailah saya mempersiapkan diri, mulai dari fisik, perlengkapan dan duit tentunya. Menjelang keberangkatan tiba- tiba teman duo labil saya diterima kerja di bank!. Aduh, alamat harus sendirian nih. Sedikit ada rasa urung, tapi sudah kadung transfer dan saya akan tunjukkan sama teman- teman saya kalau saya bisa sampai ke 'atap' Sulawesi tanpa mereka. Jadilah perjalanan ini.

Oleh panitia saya diberi nomer kontak mahasiswa Makassar yang juga join, jadi saya ada teman untuk ke sekretariat KPA tersebut tempat meeting point sebelum melakukan perjalanan. Lokasinya cukup jauh, sekitar 8 jam perjalanan dari Kota Makassar, makanya saya butuh teman ke sananya, hehehe.

Mahasiswa yang saya temani tersebut cukup asyik orangnya, so far saya merasa lega dan merasa perjalanan akan menyenangkan kalau semua kru segila anak ini. Perjalanan kami habiskan dengan bertukar cerita tentang diri kami masing- masing. Dan 8 jam perjalanan tak terasa kami lalui.

Kami turun di suatu tempat dan si ketua panitia datang menjemput kami. Ternyata kami tidak berkumpul di sekretarian KPA tersebut tapi di rumah ketua panitia, no problem lah keluarganya nih anak welcome juga.

Singkat cerita akhirnya semua kru yang akan bergabung dalam pendakian ini telah berkumpul, setelah rapat membahas persiapan final keberangkatan dan teknis di lapangan bagaimana, keesokan harinya kami bertolak ke Kabupaten tetangga tempat kami memulai pendakian.

gugusan pegunungan Latimojong dari tempat kami camp (sekitar Puncak Pokapinjan)
Awal perjalanan Alhamdulillah berlangsung lancar, walaupun medan cukup berat, Alhamdulillah saya masih bisa melewati dengan sukses dan sejauh ini situasi masih terkontrol. Kondisi tim juga masih 5-5.

3 puncak telah kami lalui, sisa 4 puncak lagi untuk melengkapi pendakian ini. Puncak ketiga merupakan puncak tertinggi di Pulau Sulawesi dan kami tiba di sana pada 1 Januari 2013. Sedikit info, kami melakukan perjalanan dari jalur yang tidak biasa dilewati pendaki pada umumnya, jalur yang kami lalui jauh lebih sulit dan lebih jauh dari jalur biasa, plusnya kami melewati 2 puncak sebelum tiba di puncak tertinggi. Jadi pas saya tiba di 'atap' Sulawesi ini, rasanya bahagiaaaaa sekali, secara ini pertama kali nya saya menginjakkan kaki di sini, berbeda dengan teman tim saya, sebagian besar sudah pernah ke sini tapi melewati jalur umum.

Triangulasi Puncak Rantemario, 'atap'nya Sulawesi
Tidak terlalu lama kami di puncak, karena kami harus menuju tempat camp untuk membangun tenda dan melanjutkan lagi perjalanan menuju puncak ke-4 yang jarak tempuhnya dari tempat camp sekitar 2-3 jam. Setelah tenda berdiri kami siap- siap menuju puncak ke-4 yakni Nenemori, kami hanya membawa barang yang kami perlukan seperti camilan dan air minum, sedangkan barang yang lain kami simpan di tenda. Oh ya, 2 orang dari tim kami tidak ikut ke Puncak Nenemori karena kecapean dan memilih beristirahat di tenda.

Saat kami berangkat langit sangat cerah. Jalur nyaris tertutup dan ada beberapa titik yang tidak jelas, jadi kami harus lebih cermat supaya tidak nyasar. Tidak disangka, saat hampir sampai di puncak tiba- tiba hujan deras turun, padahal tadi sangat cerah. Beginilah alam, selalu ada kejutan. Walaupun cuaca kurang mendukung, dalam kedinginan kami tetap melanjutkan perjalanan, karena sedikit lagi baru kita sampai, untungnya saya membawa raincoat, tapi rupanya hujan yang menang, raincoat yang saya gunakan tidak mampu membendung terjangan hujan, dan...basahlah saya. Dalam kedinginan dan basah- basah, tetap dong harus eksis foto- fotonya, hehehe.

Puncak Nenemori
Setelah sesi pemotretan, kami bergegas menuju tempat camp. Hujan semakin deras sesekali petir menyambar bersahutan dengan guntur yang menggelegar. Benar- benar dramatis perjalanan kali ini. Dan............. saya kram!! Tubuh bagian kiri saya seperti mati rasa mungkin karena kedinginan. Ya Allah.... saya benar- benar khawatir dengan kondisi saya yang awalnya segar bugar sambil berlari- lari, kini saya susah untuk bergerak, sampai- sampai saya mau digendong, tapi saya berusaha untuk menyelesaikan perjalanan. Dengan sedikit tertatih saya bangkit dan berjalan dengan susah payah.
Alhamdulillah, saya sampai dengan selamat di tempat camp.

Dalam tenda kami tidur berjejal, tidak tahu mau tidur dengan model seperti apa. Bahkan ada teman yang memilih membangun tenda darurat dengan ponco supaya bisa tidur dengan layak walaupun sedang hujan. Saya kecewa dengan panitia yang tidak memperhitungkan ukuran tenda dengan jumlah peserta. Sebenarnya sih tendanya besar, tapi tetap saja tidak cukup kalau harus menampung 11 orang!. Mestinya ada tenda ukuran kecil 1 yang dibawa, saya rasa bisa kok, kita kan ber-11 asal pembagian beban yang pas semua bisa terbawa. Ini pertama kali saya melakukan perjalanan dan tidur berjejal, sangat tidak nyaman!.

Hujan tidak juga reda sampai dini hari. Untung menjelang pagi sudah mulai cerah. Kami bergegas berkemas untuk segera melanjutkan perjalanan menuju puncak ke-5, Rantekambola. Kami kembali menuju 'atap' Sulawesi, menuju Puncak Rantekambola memang harus lewat di sana. Artinya sudah 2x saya menginjakkan kaki di Puncak Rantemario, hehehehe.

Jangan senang dulu, jalur menurun yang terjal dan licin menanti di depan mata. Dengan ekstra super hati- hati kami menuruni jalur. Cukup panjang juga jalur ekstrim tersebut, sesekali terdengar bunyi gedebuk ada yang terpeleset. Saya pun tak luput dari adegan berseluncur di tanah, hhahha.

Setelah jalur ekstrim tadi, kita kembali memasuki hutan. Saking lebatnya hutan ini, lumut memenuhi pepohonan. Dan tidak terdapat sumber air. Mampus! Kami sudah mulai kehausan, masih ada sih bekal air yang kami bawa dari tempat camp, tapi itu persediaan, jika terjadi hal- hal yang tidak diinginkan. Jalur mulai tidak jelas menyatu dengan rimbunnya hutan. Dannnnnnnnnn lintahnya itu lho!!!. Saya tidak pernah melihat lintah sebanyak ini, di mana- mana lintah dan si lintah sangat lincah hinggap di kulit kami. Kaus kaki tebal saya tidak ada artinya, mulut lintah terlalu tajam untuk dihalau. Saya harus ikhlas 'berdonor' kepada lintah- lintah ini. Jujur saya rada ngeri, soalnya banyakkkkkkk sekali. Mungkin hutan ini namanya hutan lintah.

Perut mulai keroncongan dan kami memutuskan berhenti di suatu tempat, bayangkan di makanan kami juga ada lintahnya, saya jadi tidak nafsu makan. Setelah makan kami melanjutkan perjalanan menuju Rantekambola. Jalur mengarah turun, dari kejauhan kami mendengar suara mesin. Wah......rupanya ada tanda- tanda kami kesasar. Ketinggian Rantemario dan Rantekambola tidak berbeda jauh, dan rupanya kami melenceng dari jalur yang memang tertutup. Kami sedikit panik. Nah, dari sini baru saya tahu ternyata si panitia juga belum pernah ke puncak ini dan mereka tidak melakukan persiapan matang. Kecewa luarrrr biasa!!!. Beraninya mereka mengadakan event 'berani' seperti ini dan melibatkan eksternal organisasi mereka. Walaupun mereka belum pernah ke sana, setidaknya mereka bertanya kepada orang yang pernah ke sana dan persiapan pencegahan lainnya.

Dalam kekecewaan ini, kami harus tenang, walaupun sudah mulai terdengar cekcok. Kami putuskan camp untuk menjernihkan pikiran dan mencari jalan keluar. Karena posisi kami yang tidak begitu jauh dari pemukiman, jadi HP kami masih bisa menangkap sinyal walaupun hilang- hilang. Teman saya menghubungi anggota KPA yang baru- baru ini melakukan perjalanan ke Rantekambola. Karena sinyal yang hilang- hilang jadi tidak banyak info yang kami dapatkan, tapi setidaknya sudah ada sedikit kejelasan  di sekitar mana kami mulai melenceng dari jalur. Walaupun nyasar, tidur kami cukup lelap, mungkin karena capek. Dan paginya saya baru sadar kalau kaki saya mendarat sempurna di wajah teman saya, untung doi sabar, maklum dengan kondisi tenda, heheheh

Keesokan harinya sebelum melanjutkan perjalanan, kami berembuk.. Pilihannya, naik sampai ke puncak Rantemario dan memulai lagi perjalanan dari sana. Kedua, buka jalur dari titik kami berada, entah menuju ke mana, yang jelas sampai kami menemukan jalur yang jelas. Intinya kami sudah mulai ikhlas kalau pendakian 7 puncak ini gagal mencapai semua puncak, intinya kami menemukan jalan keluar dan selamat, ini jauh lebih baik daripada melanjutkan ekspedisi konyol ini!. Dari hasil pengamatan teman saya, dia yakin tidak jauh dari posisi kami adalah lokasi finish kami, kebetulan teman tersebut penduduk asli kaki Gunung Sinaji.. Saya pasrah- pasrah saja. Padahal rencana saya, jika pilihan pertama yang diambil, saya memilih menghentikan perjalanan dan saya akan turun gunung sendiri ke perkampungan, karena jalur dari atas Puncak Rantemario sangat jelas dan terdapat stringline di sepanjang jalur.

Berat hati saya harus melewati jalur yang kemarin saya tempuh, jalur dengan sejuta lintah. Di mana stok air kami sudah menipis dan sumber air tidak ada!. Perfecto!. Di perjalanan kami menemukan kubangan hewan, entah kubangan babi atau kubangan apa, kami mengambil air itu dan kami campur dengan minuman sachet supaya bau tanahnya sedikit terduksi.

Perjalanan semakin berat. Ada sedikit sesal, tapi apa mau dikata. Saya kira panitia sudah melakukan persiapan dengan baik. Saat kami menemukan jalur, entah jalur warga yang hendak ke kebunnya atau jalur apa pun itu yang jelas ini nampak jelas  jalur yang biasa dilewati, dilihat dari sampah buangan orang yang melewatinya.

Akhirnya kami bertemu juga dengan sungai dengan aliran air yang sangat segar, kami minum sepuasnya. Sekalian melarutkan air kubangan yang kami teguk dengan terpaksa tadi. Yang tadinya kami kekeringan karena tidak ada sumber air, sekarang kami bosan lihat air karena harus menyebarang dari sungai ke sungai yang lain.

Yang tadinya kami mengira kalau telah kembali jalur yang benar, oh nooo!!!!! Sekarang kami berada entah di mana, gunungnya berlapis- lapis dan jalur mulai menghilang. Sekarang kami benar- benar pasrah. Setelah melewati satu pinggiran gunung, di baliknyabterdapat lagi gunung, seolah- olah gunung ini tidak ada habisnya. Kalau tidak salah 4 hari kami berada entah di mana sampai suatu pagi dari kejauhan kami melihat perkampungan. Melihat perkampungan seperti melihat emas segunung, bahagia yang luar biasa. Saya tidak peduli di perkampungan mana kami tiba, yang jelas sampai perkampungan, bertemu manusia lain selain tim kami.

Tidak henti- hentinya saya ngedumel dalam hati, tenda yang tidak memadai,panitia yang tidak menguasai jalur, ransum yang sangat kurang, lengkap!.. Apalagi beberapa bulan setelah pendakian ini, ternyata puncak ke-4 yang kami daki yang panitia klaim sebagai Puncak Nenemori, ternyata bukan Nenemori yang sebenarnya!. Apa- apaan sih, nggak jelas banget bikin kegiatan.
Dari perjalanan ini saya benar- benar memetik pelajaran, jangan melakukan pendakian berat bersama sembarangan orang. Maksudnya bukannya saya mengatakan tim seven summits kemarin buruk atau bagaimana. Tapi lebih baik kalau melakukan perjalanan alam yang berat bersama teman- teman yang kita sudah tahu wataknya bagaimana dan bersama- sama kita melakukan semua persiapan, apalagi masalah ransum. Saya tidak mau lagi kepalaran dan hilang di gunung. Apalagi selama ini kalau mau melakukan pendakian, baik itu perjalanan dekat atau jauh saya (dan teman- teman) selalu melakukan persiapan yang ekstra matang, supaya perjalanan lancar dan meminimalisir hal- hal yang tidak diinginkan. Tapi bagaimanapun perjalanan kemarin, terimakasih teman- teman baruku! :D


Jumat, 29 Mei 2015

teman- teman kita di Jatim Park 2

Dari kecil saya memang sudah sering diajak berkunjung ke Kebun Binatang, entah kenapa, mungkin sebagai media pembelajaran untuk mengetahui dunia hewan. Tapi saya sangat menyukainya. Ada rasa bahagia tersendiri deh melihat tingkah lucu hewan- hewan yang ada. Nah, sekarang saya akan berkunjung ke Jatim Park 2, bukan hanya hewan- hewan hidup, tapi diorama mereka juga ada di sini.

Jatim Park 2 terletak di Kota Batu dan di dalamnya meliputi, Museum Satwa yang merupakan wahana edukatif  dimana pengunjung dapat melihat diorama-diprama hewan dari berbagai belahan dunia. Dalam Jatim Park 2 juga terdapat Batu Secret Zoo yang merupakan kebun binatang, walaupun koleksi satwanya tidak begitu banyak.

Tiket masuk Jatim Park 2 waktu saya berkunjung kalau tidak salah ingat Rp. 105.000,00/org.  Tergantung sih pilih paket yang mana. Sebenarnya sih timingnya kurang tepat, soalnya waktu saya datang sudah pukul 16.00 WIB, jadi waktu eksplor sangat singkat. Alhasil semua saya lakukan terburu- buru dan sepintas saja.

Loket pembelian tiket Jatim Park 2
Loket dari arah Museum Satwa
Sebelum mencapai loket kita akan disambut jajaran kios- kios yang menjual aneka ragam oleh- oleh, baik makanan ataupun souvenir. Dari kejauhan terlihat bangunan loket yang cukup unik. Setelah membeli tiket, tujuan pertama saya (ini berdasarkan imbauan Mbak yang jaga loket) adalah Museum Satwa.

Museum Satwa
Museum Satwa dari dekat
Saat pertama kali memasuki Museum Satwa kita akan disambut  dengan sangakr burung raksasa yang didalamnya sudah ada diorama hewan dan kita bisa berfoto di sana, tapi karena waktu yang sangat terbatas kesempatan masuk ke dalam sangkar harus dilewatkan begitu saja.

Sangkar raksasa
Melewati sangkar raksasa, nah ini nih yang paling ingin saya lihat di Museum Satwa, replika kerangka hewan purba Dinosaurus sekeluarga,heheh... Yang ada di iklan pasta gigi itu lho.

Replika kerangka Dino
Saya masih lebih lama mengamatinya sambil membayangkan kefidupan di era dinosaurus, tapi apa daya lagi, karena waktu yang teramat mepet. So... mari kita lanjut perjalanan kita eksplor Museum Satwa. Diorama satwa yang ada benar- benar bagus, saya tidak tahu ini hewan asli yang diawetkan atau cuma replikanya, sayang tidak ada petugas yang bisa saya tanya.

Greater Kudu
Banyak sekali diorama satwa, tapi tidak semua saya tampilkan, hanya yang menarik bagi saya, heheheh. Greater kudu merupakan kijang hutan yang ada motif garis- garis pada tubuhnya. Habitatnya di padang rumput di bagian timur dan selatan Afrika.

Buaya muara dan pawang, heheheh
Bushpig
Insectarium
Setelah puas melihat diorama hewan- hewan besar kita masuk ke insectarium dulu yang isinya semua serangga seperti kupu- kupu, kumbang dan kawan- kawannya yang berasal dari berbagai negara.

Kupu- kupu dan kumbang dari berbagai negara
beranekaragam kupu- kupu
Area insectarium tidak begitu luas dan saya tidak begitu excited jadi saya segera keluar ke area lain. Dan selepas dari insectarium tadaaaaaa...... bertemu lagi dengan diorama satwa- satwa lucu.

Canadian otters aka berang- berang
Red lechwe aka kijang
Beaver
Cheetah (kiri) dan Bleshbuck (kanan)
African porcupine
Ular Pyton
Kalau dilihat- lihat sepertinya satwa yang ada adalah satwa asli yang diawetkan, soalnya benar- benar seperti asli. Nah sekarang kita lihat rangka atau tulang belulang satwa.

Kerangka mammoth
lupa kerangkanya apa :)
Kerangka ikan
Kerangka berbagai jenis buaya
Keluar dari area kerangka- kerangka, kita kembali lagi melihat diorama satwa- satwa lucu dari berbagai belahan dunia.
Diorama beruang kutub
Lucu kan beruang kutub ini
Harimau
Bongo antelope
Aduhh.....keasyikan melihat diorama satwa- satwa lucu jadi lupa waktu, padahal masih mau mengunjungi Batu Secret Zoo untuk bertemu satwa- satwa asli yang masih hidup. Segera saya bergegas menuju TKP sebelum pintu masuk ditutup.

Batu secret zoo
Memasuki area Batu secret zoo kita akan disambut oleh aroma wewangian khas, khas kotoran hewan,hahahahha....Maklum di kebun binatang ini. Satwa pertama yang saya jumpai adalah tikus raksasa, ihhh.....benar- benar raksasa. Saya tidak bisa bayangkan kalau tikus- tikus ini yang berkeliaran, yekkkkkk..

Tikus raksasa
Wahhh benar- benar terlalu lama di Museum Satwa, kita diperingatkan sama Mbak- Mbak yang jaga supaya cepat- cepat karena bonbinnya sudah mau ditutup. Aduh, nggak asik banget sih (-_-). Jadi nggak seru nih eksplornya.

Sekumpulan lemur

aduh...lucu banget si Lemur ini
Di ujung jalan terdapat jalan menuju savannah, saya masuk ke sana, sayang kandangnya sedang dibersihkan jadi satwanya dimasukkan ke dalam kandangnya, alhasil yang saya lihat cuma Mamas yang lagi membersihkan kandang. Baliknya kita berputar arah ke sudut lain.

Kanguru albino
Kalau biasanya kanguru yang kita kenal itu berwarna krem, nah di BSZ ini saya melihat kanguru yang berwarna putih alias albino. Unik banget lho!. Dan ternyata si kanguru albino ini merupakan hewan langka, di Australia saja negara asalnya jumlah kanguru albino sangat sedikit. Wah... senangnya bisa melihat salah satu hewan langka :D.

Flamingo merah
Nah, sekarang saya memasuki area unggas, di sana banyak terdapat jenis unggas yang baru pertama kali saya lihat, seperti flamingo merah ini, juga ada spesies unggas yang saya lupa namanya, tubuhnya agak kecil, tapi corak bulunya sangat bagus. Tuh kelihatan kok di gambar yang kecil- kecil itu. Sebelum keluar dari area BSZ ini saya harus melihat satwa- satwa idola saya, siapa mereka???  Check this out!
Singa jantan
Singa betina
Sebenarnya sih saya kurang suka dengan singa, tapi apa daya harimau sedang bersembunyi. Sempat juga bertemu panther tapi sayang panthernya agak sembunyi jadi tidak sempat tertangkap kamera. Untung ada kucing besar yang tidak kalah lucu dengan harimau, lynx yang benar- benar mirip dengan kucing.

Lynx sedang makan
Lynx benar- benar mirip kucing kan?
Aduh......senangnya melihat Lynx yang cakep, gagah dan berkarakter! (Aslinya saya tidak ini anak jantan atau betina, heheheh). Pokoknya pengen meluk lah, tapi atuttttt nanti doi masih lapar dan saya dijadikan makanan penutup.hhahahha....

Kawasan Batu Secret Zoo semakin sepi karena memang sudah hampir ditutup, saya juga sudah cukup puas bertemu dengan kucing besar,walaupun tidak lengkap karena belum melihat si ganteng harimau. Tapi sudahlah, lain kali mungkin bisa ke sini lagi kalau ada kesempatan.

Kamis, 28 Mei 2015

Coban Rondo

Kalau sebelumnya puas berpanas- panasan di Gunung Bromo, sekarang cari yang dingin- dingin dulu di sekitaran Malang. Sepertinya air terjun Coban Rondo  cocok untuk dikunjungi. Karena lokasinya yang sangat mudah untuk diakses, juga tidak dibutuhkan tenaga ekstra untuk mencapainya, karena kita hanya berjalan kaki sekitar 100m untuk mencapai air terjun Coban Rondo, akses jalannya juga bagus.

Air terjun Coban Rondo terletak di Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Kalau dari arah Kota Malang kita akan melewati Kota Batu sebelum sampai ke tempat ini. Perjalanan menuju Coban Rondo sangat menyenangkan karena walaupun kamu berangkat sudah cukup siang, udara terasa sangat sejuk dan kita bisa melihat Kota Malang dari ketinggian. Tapi harus berhati- hati karena jalan yang berkelok- kelok dan mendaki.

Untuk masuk ke dalam air terjun kita harus membeli tiket seharga Rp. 15.000,00/orang dan Rp.4.000,00 untuk kendaraan roda dua. Masih sedikit ke dalam setelah melewati loket pembelian tiket. Ada tempat wisata lain selain air terjun, yaitu labirin, tapi kami tidak sempat mengunjunginya.

Setelah memarkir kendaraan di tempat yang disediakan kami segera menuju air terjun. Di sana banyak pedagang makanan, jadi jangan takut kelaparan :D.

Welcome to Coban Rondo!


Tidak jauh dari pintu menuju air terjun Coban Rondo terdapat mushola di sisi kanan jalan. Kebetulan saat kami tiba sudah masuk sholat dhuhur jadi kami mampir dulu untuk melaksanakan sholat dhuhur.
Musholanya cukup bersih jadi terasa nyaman.

Mushola di Coban Rondo
Setelah sholat kami melanjutkan perjalanan. Pemandangan hijau yang asri menyambut. Pepohonan di sana sini, serasa masih pukul 08.00 pagi, tidak terasa terik matahari padahal sudah pukul 12.30 WIB. Juga banyak monyet ekor panjang yang berkeliaran, untung monyetnya tidak jahil, jadi kami merasa tetap aman.

Monyet ekor panjang
Lucu sekali mereka melompat dengan lincah dari pohon ke pohon lain. Tidak jarang yang sambil menggendong anaknya sambil melompat ke sana kemari. Ada juga yang sampai mengorek- ngorek tong sampah, kasihan, mungkin sedang lapar.

dia sedang lapar
Sayang kami tidak membawa makanan yang bisa kami berikan kepada monyet ekor panjang tersebut. Move on dulu dari monyet- monyet lucu tersebut, kami melanjutkan ke air terjun Coban Rondo. Sudah mulai terdengar deru air terjun.

Pendopo di Coban Rondo
Kami juga melihat ada sebuah pendopo, tapi kurang tahu juga ini untuk umum atau harus disewa terlebih dulu. Tidak terlihat juga pengunjung di tempat itu, tapi mestinya sih pendopo itu disediakan buat pengunjung yang ingin beristirahat, hehehe.

Jalan terlihat lengang
Karena kami ke Coban Rondo saat hari kerja, yakni hari senin, jadi pengunjung tidak begitu ramai, bahkan terkesan lengang. Tapi saya suka, karena bisa sepuasnyaaaaaaa di Coban Rondo tanpa banyak pengganggu, hehehehe. Deru air terjun semakin terdengar jelas, dan wowww..........sudah mulai kelihatan air terjunnya.

Air terjun Coban Rondo dari kejauhan
Bagus kan air terjunnya. Air terjun Coban Rondo terletak pada ketinggian 1135 m di atas permukaan laut. Air terjun ini memiliki ketinggian 84 meter dengan debit air berkisar antara 90 liter per detik pada musim kemarau sampai dengan 150 liter per detik pada musim penghujan (Wikipedia). Jadi tidak sabar untuk segera mendekat dan menyentuh air sejuknya.

Air terjun Coban Rondo
Tadaaaa........ini dia air terjun Coban Rondo. Ada sejarahnya nih kenapa dinamakan Coban Rondo.
Begini ceritanya, dahulu kala ada sepasang pengantin baru, mempelai wanita bernama Dewi Anjarwati dari Gunung Kawi dan mempelai prianya bernama Raden Baron Kusuma dari Gunung Anjasmoro.  Setelah 36 hari pernikahan mereka (selapan) Dewi Anjarwati mengajak suaminya berkunjung ke Gunung Anjasmoro. Namun orang tua Dewi Anjarwati melarang mereka karena baru selapan. Namun keduanya bersikeras untuk berangkat dengan segala resiko yang akan mereka hadapi di tengah perjalanan. Ketika dalam perjalanan mereka dikejutkan dengan kemunculan seorang pria yang mengaku bernama Joko Lelono. Tampaknya Joko Lelono terpikat dengan kecantikan Dewi Anjarwati dan berniat merebutnya. Perkelahian pun terjadi antara Raden Baron dengan Joko Lelono. Kepada punokawan yang menyertai perjalanan mereka Raden Baron berpesan agar Dewi Anjarwati disembunyikan di tempat yang ada cobannya (air terjun). Dalam perkelahian tersebut keduanya sama- sama gugur, dengan demikian Dewi Anjarwati menjadi seorang janda yang dalam bahasa Jawa disebut rondo. Nah, sejak saat itu, air terjun tempat Dewi Anjarwati menunggu Raden Baron disebut Coban Rondo. Konon batu besar di bawah Coban Rondo merupakan tempat Dewi Anjarwati duduk menanti Raden Baron.

Tidakkkkkkkkkk.........aku sempat duduk di batu besar itu!. Oh...NO!!!! Aku nggak mau jadi rondooooo!!! hehehehhe......

Setelah sesi pemotretan selesai, kami meninggalkan Coban Rondo untuk mencari tempat makan enak di Kota Batu.