Pengikut

Rabu, 27 Mei 2015

Extra Trip : Bromo

Masih dalam rangkaian Trip Jatim... Sehabis Kawah Ijen dan Taman Nasional Baluran kami masih punya 3 hari full untuk dihabiskan, rencana awal setelah dari 2 destinasi tersebut kami akan melanjutkan perbolangan kami ke Pantai Pulau Merah dan mencicipi rimba Taman Nasional Meru Betiri, tapi rasanya 3 hari tersebut tidak cukup untuk 2 destinasi tersebut, kalau cuma ke Pantai Pulau Merah, bingung lagi 2 harinya mau ke mana, akhirnya kami banting stir dan memutuskan ke Gunung Bromo dan berwisata di sekitar Kota Malang. Dari TN. Baluran kami ke Pasuruan ke rumah teman saya untuk beristirahat sebelum ke Bromo, lumayan penginapan gratis, hehehehe.

Perjalanan TN. Baluran yang terletetak di Kab. Situbondo menuju Pasuruan kami tempuh kurang lebih 5 jam. Sesampai di Pasuruan langsung menuju rumah Aang teman saya yang memang tinggal di Pasuruan, kami bertemu di TN. Baluran.

16 Mei 2015...
Rencana berangkat ke Bromo pukul 22.00 WIB supaya sampai Bromo kita langsung persiapan buat melihat sunrise di penanjakan. Karena masih capek dari pendakian ke Gunung Ijen untuk melihat Kawah Ijen seharian kita putuskan untuk beristirahat saja, bobok- bobok cantik di rumah Aang sekalian mencuci yang bisa dicuci supaya semua pakaian jadi bersih :D.

Ternyata keberangkatan molor dari jadwal semula karena mobil yang kita carter buat ke Bromo terlambat datang. Kami baru berangkat sekitar pukul 00.00 WIB. Kami semua berdelapan menggunakan mobil elf berangkat ke Bromo, sewa elf Pasuruan - Bromo sebesar Rp. 200.000,00, ini cuma sampai di parkiran Bromo lho!, untuk melanjutkan perjalanan tour Bromo kami menyewa jeep yang memang cocok untuk medan di sana.

Saya tidak ingat lagi berapa lama perjalanan Pasuruan - Bromo, sekitar 2 jam. Pas sampai di Bromo gila dinginnnnnnnnnnnnnn sekali, lebih dingin dari Gunung Ijen. Mana saya lupa bawa sarung tangan, untung jaket yang saya gunakan cukup safety jadi bisa melindungi saya dari dinginnya hawa Gunung Bromo. Jeep yang kami sewa untuk touring Bromo cukup lama baru datang. Oh ya kami menyewa jeep Rp. 700.000,00 untuk mengunjungi beberapa spot yang ada di Gunung Bromo.

Setelah jeep datang kami segera bergegas ke destinasi pertama, yaitu berburu sunrise, yuhhhuuuuu ini moment yang saya tunggu- tunggu, tapi sayang ternyata berburu sunrise nya bukan di penanjakan tapi di bukit, tapi boleh juga lah di sini. Banyakkkkkkkkkkkkkk sekali orang yang mengantri sunrise di sekitar sini, banyak juga yang jalan terus mencari spot lain.

Para pemburu sunrise
Udara dingin yang menusuk tidak mengurangi antusias kami menjemput sunrise. Di sini ada penjual minuman dan mie instant untuk menghangatkan tubuh sambil menunggu. Untung kami cepat datang jadi kami berdiri pada posisi yang cukup enak untuk melihat sunrise. Akhirnya yang ditunggu datang juga!

bias- bias sunrise
Indah sekali sunrisenya, bias- bias jingga yang berpadu dengan birunya langit, menghasilkan pemandangan yang Woowwwww!!!!. Terdengar decak kagum dari sana- sini. Cukup lama saya terpaku dengan apa yang ada di hadapan saya. Saya sangat bersyukur menyempatkan diri ke Bromo.
Untung saya menoleh, karena tepat di belakang kami pemandangan juga tak kalah indahnya.

Gunung Bromo dari jauh
Ternyata di balik kami terlihat Gunung Bromo dari jauh dengan bias sunrise, kami hampir melewatkan moment indah ini gara- gara keasyikan dengan sunrise tadi. Tidak jauh dari Gunung Bromo juga tampak Gunung Semeru yang mengepulkan asap seperti orang yangs edang merokok.

Gunung Semeru dari kejauhan sedang 'merokok'
Saya sempat ragu kalau itu Gunung Semeru soalnya terlihat tidak terlalu tinggi, tapi teman saya meyakinkan kalau itu benar- benar Semeru, rupanya cukup dekat dari Gunung Bromo. Rasanya sudah cukup lama kita melihat sunrise, matahariya juga kian meninggi, kami memutuskan untuk kembali ke jeep dan melanjutkan tour Bromo ke destinasi berikutnya.

Pemukiman warga di sekitar Gunung Bromo
Dari atas terlihat pemukiman masyarakat suku Tengger yang menetap di sekitar kaki Gunung Bromo. Hebat sekali ya mereka hidup di tempat yang dingi...ngin...ngin....banget!. OK lanjut ke destinasi berikutnya, selanjutnya kami akan ke savana. Menuju ke savana kami melewati lautan pasir yang teramat luas, wah...bisa dipake bangun gedung ini pasir sebanyak ini, heheheh. Savana yang kami tuju tidak begitu jauh dari tempat melihat sunrise tadi. Jeep diparkir di tempat yang telah dipersiapkan sebagai lahan parkir dan kami berhamburan eksplor sekitar savana.

Tempat parkir jeep dekat savanna

Bagus sih pemandangannya, tapi savana nya tidak seperti savana yang saya bayangkan, yang mirip di Afrika, rerumputannya cuma sedikit. Kata teman saya sih savana yang sebenarnya masih jauh dari sini, kita mesti berkendara terus sampai di balik bukit baru kita jumpai the real savana, sayang kita cuma sampai di sini.

Pemotretan di savana

Eitss.......ada yang lagi melakukan sesi pemotretan lho di savana. Cukup lengkap peralatan yang mereka bawa, kostumnya juga ala- ala gadis hutan, hehehe..
Oh ya matahari di sini mulai terik dan panasnya cukup menyengat, saya rasa kulit saya bertambah eksotis,wkwkwk... Karena sudah puas dan memang lagi malas karena sangat terik, kami memutuskan beranjak dari savanna dan menuju ke destinasi berikutnya.

Parkiran jeep menuju kawah Bromo
Ternyata destinasi berikutnya adalah inti dari perjalanan, yaitu kawah Gunung Bromo, yang dari kejauhan sudah terlihat lautan manusia mengular menapaki tangga menuju kawah. Jeep diparkir cukup jauh di sekitar pura yang ada di kawasan Gunung Bromo. Aduh....sempat ciut juga nyali saya melanjutkan perjalanan ke kawah Bromo melihat teriknya matahari dan luasnya lautan pasir yang mesti kami lewati. Tapi bagaimanapun harus ke sana karena ini kali pertama saya ke Gunung Bromo, tidak afdol kalau tidak sampai ke kawah.

Panasnya benar- benar cetarrrrrrr.......... tapi harus tetap semangat. Di tengah perjalanan kami melewati pura, teman saya menawari untuk mampir tapi saya sedang malas dan fokus untuk ke kawah, itu saja, maklum efek terik matahari, heheh.

Pura Luhur Poten
Pura Luhur Poten berdiri agung di tengah lautan pasir. Cukup luas juga pura ini. Memang masyarakat Tengger mayoritas beragama Hindu. Oh ya untuk menuju sampai tangga pendakian menuju kawah Bromo ini, kita bisa naik kuda yang banyak disewakan. Tapi berhubung uang tunai saya lagi sekarat apalah daya saya harus berjalan kaki melewati lautan pasir Bromo.

jalan menuju kawah Bromo
Selain panas terik, ada tantangan lain yang lebih menyebalkan, debu yang berterbangan diikuti bau kotoran kuda di mana- mana. Ada beberapa joki kuda yang tidak ramah terhadap pejalan kaki, ada jalan lain seenak jidat dia kebut kudanya jadi debu semakin berhamburan. Ishhhhh............ benar- benar penuh tantangan!. Jadi kalau mau ke kawah Bromo dengan berjalan kaki jangan lupa bawa masker ya. Oh ya, jangan khawatir, di sepanjang jalan banyak warung- warung tenda yang menjual minuman kok, jadi bisa juga sekalian beristirahat.

warung yang menjajakan minuman
Aduh....masih jauh juga perjalanan, dan matahari semakin silau mennnnn!. Tenaga saya mulai terkuras dan menguap karena terik matahari. Tapi eitsss....... balik kanan dulu, ada pemandangan yang bisa memulihkan tenaga.

Pura Luhur Poten di tengah lautan pasir
Dari atas terlihat Pura Luhur Poten yang terdampar di tengah lautan pasir Bromo, ditambah jajaran bukit yang seolah- olah menjadi benteng yang melindungi pura. Awan yang berarak juga semakin mempertegas keindahan yang nampak. Tapi saya harus sadar kalau perjalanan masih jauh dan manusia yang hendak ke sana juga benar- benar luar biasa banyaknya, saya jadi sedikit malas melihat manusia yang bejubel. Nah, saya jadi galau, melewati tangga yang telah ada untuk menuju kawah atau melewati pendaki lain yang 'kreatif' membuat jalur sendiri agar cepat sampai dan tidak terlalu mengantri.

tangga menuju kawah Bromo
Tuh lihat kan manusia seperti semut menapaki anak tangga menuju kawah, dan terlihat kan betapa teriknya matahari. Saya jadi tergoda mengikuti jejak orang- orang yang melewati jalur 'dadakan' yang terbentuk karena membludaknya orang yang akan melewati tangga, jadi orang- orang membuat jalur sendiri yang lebih dekat tapi sedikit lebih curam.

jalur 'dadakan'
Akhirnya saya memilih melewati jalur 'dadakan' tersebut. Terlihat mudah kan untuk dilalui, tapi sebenarnya, luarrrrrr biasa menantang dan menyabung nyawa, bayangkan bagaimana kalau melewati gunung pasir yang curam dan kaki tenggelam kalau berpijak serta tidak ada pegangan!. Saya menyesal melakukan aksi bodoh ini!. Alhamdulillah dengan hati yang sangat berdebar- debar karena ketakutan akhirnya saya sampai di atas kawah. Setelah mengumpulkan segenap nyawa yang sempat tercecer karena ketakutan tadi, saya baru bisa menikmati keindahan kawah Bromo.

Kawah Bromo
Masya Allah indahnya!. Kawahnya kering, hanya ada asap yang mengepul di mulut kawah. Saya tidak tahu kawah ini memang kering seperti ini atau di waktu tertentu ada isinya. Walaupun saya terpukau dengan keindahan kawah, saya tersadar kalau saya berada di tempat yang berbahaya karena tidak ada pagar pengaman di tempat saya berdiri. Saya segera beranjak ke sisi kawah yang dipagari, ngeri juga kan kalau terpeleset ke dalam kawah, wassalam!

pengunjung yang duduk- duduk di bibir kawah
Tapi masih banyak yang bertahan nongkrong di bibir kawah, sudah fotocopy nyawa kali ya mereka. Saya mending cabut ke posisi yang lebih aman.

Patung yang terdapat di kawah Bromo
Di kawah juga terdapat sebuah patung. Dan rupanya sering ada yang meletakkan sesajen di tempat ini. Waktu saya berkunjung ke kawah Bromo saya juga sempat melihat ada warga yang melempar seekor ayam ke dalam kawah sebagai sesajen.

Sebenarnya saya belum puas menikmati kawah Bromo ini, tapi karena panas matahari yang amat teramat terik serta banyaknya orang dan saya merasa sumpek jadi saya putuskan untuk turun saja, dan kali ini saya tidak akan mengulangi kebodohan seperti saat naik tadi, sekarang saya akan turun melewati jalan resmi yang telah disediakan dan tentunya lebih aman. Walaupun saya mesti mengantri tentunya.

Tuh panjang kan antriannya. Benar- benar butuh banyak pengorbanan untuk melihat yang indah- indah, hehehe. Huuuu....saya harus melewati lautan pasir di bawah terik yang super terik ke tempat jeep diparkir.
Di sepanjang jalan selain banyak warung tenda yang menjual makanan dan minuman, tidak sedikit juga yang menjual bunga edelweis sebagai oleh- oleh, jangan dibeli ya, supaya edelweis tetap terjaga kelestariannya :D.


Selasa, 26 Mei 2015

Bolang ke Kawah Ijen

Bulan Mei 2015 memang menyenangkan, bulan ini panen tanggal merah yang dempet- dempet, assikkk.......liburan lagi kite :D. Kebetulan tanggal 15 Mei juga ada moment penting sejagat raya, moment ulang tahun 1/4 abad ku, hehehe. Setelah berunding dengan sahabat saya akhirnya kita memutuskan untuk trip Jawa Timur. Selain lokasinya yang tidak terlalu jauh dari Kota Makassar daerah asal saya, tiket ke Surabaya juga relatif ramah dikantong, tempat wisata di Jatim juga kece- kece badai. Tiket sudah ditangan... Here we go!

Penerbangan Makassar ditempuh dalam 1 jam 20 menit. Setiba di Bandara Juanda istirahat sejenak dan menunggu teman yang belum datang dari Manado. Sekitar pukul 19.00 akhirnya teman saya tiba dan kami melanjutkan perjalanan ke Bungurasih untuk kemudian ke Banyuwangi menggunakan bus.
Perjalanan dari Surabaya - Banyuwangi kami tempuh kurang lebih 8 jam. Pas sampai di Terminal Jember kami berganti bus, karena sangat jarang bus yang langsung ke Banyuwangi, paling mentok biasanya hanya sampai di Jember lalu penumpang dioper ke bus tujuan Banyuwangi.

Perjalanan Surabaya - Banyuwangi cukup menegangkan, bagaimana tidak, saya sempat 'digerayangi' copet. Untung teman saya melihat aksi pencopet itu, lagian saya sudah waspada, yang di kantong saya cuma boarding pass sm tissu bekas, hahahah..

Seperti biasa kita kalau jalan- jalan tanpa guide, searching sana sini sebagai petunjuk jalan dan tanya- tanya sama warga yang kita temui di lokasi. Tapi kali ini kita bertanya kepada orang salah dan sotoy banget, kita bilang kalau kita mau ke Kawah Ijen, kira- kira turun di mana supaya aksesnya dekat, sama si kernet yang ngaku orang Banyuwangi asli kita harus turun di daerah Rogojampi. Alhasil, turunlah kami di pasar Rogojampi untuk mencari ojek buat melanjutkan perjalanan ke Kecamatan Licin.

Setelah sarapan di warung gerobak di Pasar Rogojampi kita mencari ojek buat mengantar kita ke Licin.Setelah negosiasi panjang akhirnya deal Rp. 100.000,00 buat 2 ojek muat 3 orang!! Aduh males banget bonceng 3, tapi mau diapa lagi nggak dapet ojek lain. Perjanjiannya kami diantar ke PT. Candi Ngrimbi yang ada di Kecamatan Licin, karena untuk melanjutkan ke Paltuding (titik start pendakian ke kawah Ijen) kami berencana akan menumpang truk pengangkut penambang belerang, untuk mengirit ongkos tentunya.

Perjalanan dimulai.......

Jalanan mulai menanjak, hijau sana sini, sebelah kiri jalan terdapat sungai yang cukup besar, udara mulai sejuk. Tidak lama kemudian kita sudah memasuki Kecamatan Licin, mas ojek mulai bertanya kita turun di mana, saya bilang sesuai perjanjian turunkan kami di PT. Candi Ngrimbi. mas ojek cuma mengangguk dan perjalanan terus dilanjutkan. Jalanan semakin menanjak dan motor yang kami naiki (kebetulan emang motor rada berumur) mulai susah nanjaknya, saya mulai panik, tapi nikmati saja, sesekali kami mesti turun dari motor, tak apalah daripada mogok. Mas ojek mulai ngedumel, sampai dia berhenti di satu titik dan minta ongkos dinaikkan. Saya juga ngotot dong, dari awal kan sudah deal Rp. 100.000,00 untuk 2 ojek sampai kecamatan Licin turun di PT. Candi Ngrimbi. Tapi dalam hati saya memang akan menambah ongkos ojek karena perjalanan cukup jauh dan pendakian, kasihan mas ojeknya yang sudah tua kayak motornya, hahahha.

Tanjakan semakin gila, muka mas ojek semakin jutek, dan saya pun mulai lelah dikit- dikit turun dari ojek dan jalan mendaki, haduh...... di mana sih PT. Candi Ngrimbi, udah dari tadi ini masuk kecamatan Licin kok belum sampai, pokoknya kami mulai pusing pala berbie deh... Keajaiban pun datang, tiba- tiba terdengar suara truk dari arah bawah, truk pengangkut belerang!. Kami sontak berteriak agar truk itu berhenti dan kami hendak menumpang sampai Paltuding. Bye...bye.....mas ojek dan motor tua, enakan naik truk.

Di atas truk kami berbincang- bincang dengan para penambang belerang. Katanya kalau naik bus mau ke Licin itu, turunnya bukan di Rogojampi dan PT. Candi Ngrimbi itu tadi kita udah kelewatan. Huuuu......dasar kernet dan tukang ojek yang sotoy!.

Dengan Rp. 5.000,00 kita sudah sampai di Paltuding, tempat start untuk pendakian menuju Kawah Ijen. Pemandangannya gila keren banget! Udaranya mulai dingin dan mulai tercium bau belerang. Kami diarahkan oleh seorang penambang menuju sebuah warung yang juga menyewakan kamar, kami menyewanya Rp. 150.000,00/malam dan bisa menampung 3 orang, sebenarnya sih rada sempit tapi tidak apalah dingin ini.

Udara luarrrrr biasa dingin sekaleeeee...... Setelah ishoma dan bersih- bersih kami sepakat beristirahat supaya nanti malam bisa fit melakukan pendakian saat dinihari mengejar blue fire.

15 Mei 2015, Pukul 01.30 WIB
Alarm berbunyi dan kami terbangun untuk prepare blue fire. Setelah semua siap kami mengantri tiket. Wahhh luar biasa antriannya panjang bingittttt!! dan udaranya asli dinginnnnnnn sekali!. Dengan sabar kami mengantri dan melihat sekitar, wisatawatan dari berbagai daerah Indonesia dan dari beberapa penjuru dunia ada di sini. Hampir nyesel kalau belum pernah ke Kawah Ijen. Akhirnya tiket seharga Rp. 5.000,00 sudah ada ditangan, yuk mari blue fire menanti.

dan petualangan pun dimulai....
Udara yang dinginnya cetar seperti tidak ada artinya saat menatap langit, bintang bertabur indahhhhhhh sekali, tidak pernah saya melihat bintang sebanyak ini bertebaran di langit, orang- orang bilang milky way.. Indahnya, such heavenly view lah kata Coldplay!.

Jalur perjalanan semakin menanjak, suara ngos- ngosan terdengar dari mana- mana, bahkan kami mendengar ada bule yang mengumpat. ada juga pendaki yang turun sebelum melihat blue fire, rupanya dia sudah tidak sanggup melanjutkan perjalanan. Rugi sekali pikir saya, tapi apa boleh buat kalau fisik sudah tidak sanggup. Di tengah perjalanan terdapat sebuah warung yang menjual minuman dan beberapa makanan lain, tapi masih tutup.

Jalan mulai menyempit, udara semakin dingin bau belerang semakin menyengat, namun semangat kami tetap menggebu demi blue fire. Tidak terasa kami sampai di atas, kami beristirahat sejenak, luar biasa ramainya. Blue fire sangat menggoda, untuk menjangkaunya kita mesti turun ke arah kawah. Namun hasrat saya untuk mendekati blue fire menciut tatkala melihat orang ke sana juga luarrrrr biassaaa banyaknya, saya khawatir saja kalau jumlah pengunjung yang turun ke kawah membludak sedangkan jalannya cukup curam dan sempit pengunjung jadi berdesak- desakan, belum lagi bau belerang yang sangat menyengat, huuuu....... dari kejauhan saja kulihat blue fire.

Pengunjung yang mengantri melihat blue fire
Blue fire nya juga sudah mulai padam, sisa 2 titik, sayang saya hanya menggunakan kamera saku jadi tidak bisa menjepret si blue fire. Ada sih kamera dslr yang dibawa teman saya, tapi tidak bisa digunakan karena suhu dingin, sekalian aja kameranya dilempar dalam kawah, nggak guna ini, hhahha :D.

Pengunjung baru tiba juga luar biasa banyaknya
Bau belerang yang mulai membuat saya tersedak dan angin yang bertiup cukup kencang membuat udara semakin terasa dinginnya membuat saya untuk beranjak meninggalkan blue fire yang memang terlihat mulai redup dan mencari tempat berlindung agar tidak terlalu kedinginan dan sedikit aman dari bau belerang yang sangat menyengat. Juga kami mendapat informasi dari seorang penjaga di Kawah Ijen (cute lho Mas ini, hehehe) kalau selain blue fire, kita juga bisa berburu sunrise, tapi kita meski daki lagi sampai di atas. Setelah Mas cute menunjukkan jalan menuju tempat 'perburuan' sunrise akhirnya kita ke sana.

Sekarang sudah pukul 05 pagi WIB lewat, di tengah perjalanan kami melihat ada 2 orang cowok yang lagi sholat subuh, sekalian kami mampir pinjam sajadahnya, karena kami sudah menyiapkan mukena. Lama juga sholat nya 2 Mamas ini, sudah semakin cerah, tanda- tanda kami gagal lagi buat sunrise, anehnya kami tidak merasa kecewa atau bagaimana. Yang jelas kan menghadap sang kekasih dulu (sholat) eaaaa....eaaaa....

Rona sunrise
Selamat pagi Gunung Ijen!!!!
Tidak menyangka akhirnya sampai juga kami di tempat ini, tempat dengan sejuta keindahan. Terlihat semua jalur yang kami lalui semalam, ndak semakin terlihat juga betapa banyaknya orang yang berburu keindahan alam Ijen.

Gilak kerennya dari arah sini
Dari posisi kami juga terlihat satu gunung, entah gunung apa namanya yang dikelilingi awan, keren lah pokoknya, sepanjang mata memandang hanya keindahan yang tampak. Bias- bias mentari semakin mempercantik pemandangan.

Karena blue fire sudah menghilang, pengunjung serempak berburu sunrise, padahal tadinya di sini sepi, hanya beberapa orang. Tapi untuk tempat yang tepat untuk melihat sunrise masih jauh di atas, yang tidak sanggup dan tidak keburu waktu cukup di sini saja juga sudah kece badai kok. Tidak jauh dari sini juga mulai kelihatan Kawah Ijen.

Kawah Ijen
Amazing banget kan Kawah Ijen. Semua perjuangan ke sini langsung terhapus, yang ada rasa senang yang amat teramat.. Suatu saat kalau ada waktu dan budget saya akan ke sini lagi dengan persiapan yang lebih baik tentunya. Btw, saat melihat Kawah Ijen ini saya jadi teringat salah satu Danau Kelimutu yang ada di Flores. Warna airnya hampir sama, bedanya kalau di Kawah Ijen kita bisa mendekat sampai di bibir kawah. Kalau di Danau Kelimutu, kita hanya melihatnya dari jarak yang cukup jauh demi keamanan pengunjung.

awan berarak di balik gunung

Penambang belerang dari kejauhan

Belerang di pinggir kawah
Dari bibir kawah terlihat asap belerang yang mengepul. Di sana juga terlihat beberapa penambang yang hendak mengambil belerang. Dari jauh saja aromanya sudah sangat menyengat, apa kabar kalau langsung di pusat belerangnya, ckckck... Hebat bener para penambang itu!.

1/4 abad bersama sahabat,hehehe
Di tengah takjubnya saya akan keindahan Kawah Ijen, tiba- tiba Rani memeluk saya, 'Selamat ulang tahun Widya!', ah saya sampai lupa kalau hari ini genap 1/4 abad umur saya. Alhamdulillah, 1/4 abad, Kawah Ijen, bersama sahabat terkasih, perfecto! :D. Terimakasih buat kalian yang memang numero uno!

Kami masih ingin berlama- lama di sini menikmati persembahan alam yang sekali lagi luarrrrrrrr biasa indahnya, tapi kami harus segera bergegas turun ke Paltuding karena kami sudah teken kontrak dengan ojek buat mengantar kami ke arah Banyuwangi.

Narsis sebelum turun gunung
Panas dingin, itulah kondisi di Kawah Ijen yang berada di Gunung Ijen, walaupun panas matahari mulai menyengat, tapi tetap saja udaranya masih terasa dingin. Panasnya juga luarrrrr biasaaaa menyengatnya, matahari berasa ada pas di atas kepala saking panasnya. Tapi walaupun panas, pas foto harus tetap senyum, smileeeeeeee :D.

Sepanjang perjalanan kami berpapasan dengan penambang belerang yang beberapa dari mereka juga ada yang menjual souvenir khas Ijen yang terbuat dari belerang, maaf ya saya lupa motoin :D. Kalau berpapasan dengan mereka jangan lupa kasi senyum supaya mereka tambah semangat, hehehehe..

Kalau perjalanan semalam kita ditemani oleh milkyway, nah perjalanan pulang kita disuguhi dengan pepohonan dan gunung yang menjulang dari kejauhan. Ada juga beberapa monyet liar yang bergelayut di pepohonan.

perjalanan pulang menuju Paltuding
Kece badai kan pemandangan menuju Paltuding dari Gunung Ijen. Pokoknya perjalanan terasa sangat menyenangkan. Selain berpapasan dengan penambang belerang, kami juga berpapasan dengan wisatawan yang baru mau naik ke Gunung Ijen.

medan yang kami lalui

Pintu start pendakian
3 km menuju Kawah Ijen
Ternyata jarak yang kami tempuh adalah 3 km, pulang pergi artinya 6km, bahkan bisa saja lebih, jalan menuju ke sana kan berliku- liku dan menanjak. Sejauh apapun itu terbayar lunas dengan apa yang akan kita lihat.

Lokasi camp di Paltuding
Di Paltuding juga terdapat lapangan yang bisa dijadikan tempat camp bagi yang membawa tenda. Kalau rame- rame kayaknya memang lebih seru kalau ngecamp. Kan bisa berapi unggun ria kalau malam, wah serunya.

Guest House milik Pemda Banyuwangi
Nah, kalau penginapan yang keren ini guest house milik Pemda Banyuwangi, dan yang menginap di sini tentunya tamu Pemda juga. Mau nginap di sini? Jadilah tamu Pemda Banyuwangi,hahahahaha

Tidak terasa satu destinasi akhirnya selesai, berikutnya masih ada banyak destinasi keren yang top markotop untuk kami kunjungi :D

Selasa, 05 Mei 2015

Bawakaraeng juga punya 'Ranukumbolo'

Menyenangkan itu kalau pas lihat kalender terus ada 2 tanggal merah di hari kerja yang berhimpitan. Yuhhuuuu waktunya kita jalan- jalan. Untuk bonus libur 3 hari kali ini kami memilih ke Danau Tanralili yang terletak di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Untuk menuju ke Danau Tanralili terlebih dahulu harus ditempuh dengan berkendara selama 3-4 jam dari Kota Makassar dan dilanjutkan dengan trekking selama 2-3 jam tergantung kekuatan fisik tentunya.

Kami start dari Kota Makassar sekitar pukul 14.00 WITA, tiba di Lengkese, desa terakhir sebelum trekking ke Danau Tanralili sekitar pukul 18.00 WITA. Setelah istirahat dan melaksanakan sholat magrib, kami melanjutkan perjalanan menuju Danau Tanralili, 'Ranukumbolo'nya Gunung Bawakaraeng. Karena hari sudah malam, jadi untuk perjalanan menuju 'Ranukumbolo' tidak ada sesi pemotretan, maklum, kami hanya bermodalkan kamera poket, percuma foto- foto, nggak jelas juga :D.

Jalur yang pertama dijumpai berupa jalan setapak perkebunan warga. Tidak lama kemudian sudah tercium aroma pegunungan, dan jalan setapak perkebunan mulai hilang diganti dengan jalur yang mulai menanjak di mana sisi kanan kiri menjulang bukit- bukit yang luar biasa indahnya masih bisa terbias dalam gelap malam.

Baru beberapa menit kami berjalan, kami tidak berhenti mengucapkan puji kepadaNya atas keindahan tak terkira yang kami saksikan. Terlihat dalam gelap saja sudah nampak luar biasa, apalagi saat terang. Tanjakan masih terasa ringan walau sudah mulai terdengar suara ngos- ngosan. Tanjakan berikutnya saat kami khidmat menikmati perjalanan, tiba- tiba saja kami dikejutkan keluhan salah seorang teman yang mulai kelelahan dan bahkan mau menghentikan perjalanan dan kembali ke perkampungan. Kami membujuk teman tersebut supaya semangat, dan sedikit berbohong sih kalau Danau Tanralili nya sudah dekat ,hehehhehe....daripada dia menyerah, kan tidak mungkin kami melanjutkan perjalanan.

Setelah teman kami tersebut kembali on fire, kami melanjutkan perjalanan. Ada kejutan yang lebih besar di depan mata. Memang tidak ada yang gratis di dunia ini, jalur berikutnya yang kami hadapi untuk menikmati pemandangan yang lebih 'WAOWWWW'  adalah.... taraaaaaaaa........... jalur mendaki yang terdiri dari bebatuan yang cukup labil, jadi kita jalannya mesti hati- hati karena bebatuan sering runtuh. Mirip pendakian menuju puncak Mahameru, kurang lebih seperti itulah. Sempat ada adegan seperti dalam film 5 cm, saat Iyan (Igor Nainggolan) terkena batu yang runtuh dari arah puncak. Sangat mendebarkan, untung teman saya baik- baik saja. Hal tersebut terjadi karena ada sekelompok orang yang melewati jalur yang salah, untung tidak menimbulkan korban.

Tidak sampai di situ, setelah melewati tanjakan 'maut' , kita masih harus melewati jalur yang tanjakannya cukup menguras tenaga, dan nafas menjadi tersengal-sengal tentunya. Teman yang sempat menyerah tadi, kembali drop melihat jalur, kembali lagi kami (walaupun saya sendiri cukup lelah) menyemangatinya dan ditambahi sedikit bohong kalau ini adalah tanjakan terakhir, heheheh.

Kali ini jalur cukup berlumpur karena ada aliran air pada jalur. Kalau medan seperti ini syaa lebih senang menggunakan sandal lapangan daripada sepatu lapangan, supaya kaki tidak benyek. Jalur becek- becek cukup panjang juga. Setelah berbecek- becek ria, kita kembali trekking. Semangat anak muda!, yakin tidak ada perjuangan yang dibayar murah, pemandangan indah menunggumu :D.

Alhamdulillah setelah melakukan perjuangan kurang lebih 3 jam kita sampai juga di 'Ranukumbolo'nya Gunung Bawakaraeng. Tadi 2 teman laki- laki kami sudah terlebih dahulu tiba dan mendirikan tenda jadi setibanya kami, kami memasak, bersiap untuk makan malam romantis berjamaah di pinggir Danau Tanralili dengan view danau dan gunung serta beratapkan langit plus bintang- bintang. Wuihhhh kerennya, sayang Jake Gyllenhaal tidak turut serta, :D.

Singkat cerita setelah sesi makan malam romantis berjamaah, dilanjutkan curhat- curhat yang lagi- lagi curhatan massal, kami ladies memutuskan untuk segera istirahat, waktu juga sudah pukul 02.00 WITA, jangan sampai besok pagi kita susah bangunnya. Kan rugi jauh- jauh ke Danau Tanralili hanya dihabiskan dengan tidur, hehehhe

Area camp di pinggir Danau Tanralili

Selamat pagiiiiiiii Danau Tanralili!!!!
Tuh, benar saja, kamis edikit telat bangun pagi. Kami bangun jam 6 pagi, di luar sedang hujan rintik- rintik, ya jadilah, mengeram di dalam tenda. Karena perut mulai keroncongan, kami masak deh. Alhamdulillah setelah masakan kami selesai, hujannya reda. Setelah sarapan saya dan ladies lainnya berjalan- jalan di sekitar danau. Cari spot keren buat pemotretan, wkwkwkwk.

Danau Tanralili

Yaa.......hujan lagi, untung cuma rintik- rintik. Sebodoh amat, kami melanjutkan pencarian titik kece, heheh...

Aliran sungai yang bermuara ke Danau Tanralili

Di sekitar danau ada aliran sungai dengan banyak bebatuan, air dari aliran sungai ini mengalir ke danau. Tidak jauh dari sini, terdapat juga air terjun yang air nya juga mengalir menuju Danau Tanralili. Mari berjalan lebih dekat ke air terjun. Air terjunnya tidak begitu besar, tapi bagus. Sayang foto air terjunnya ada objeknya jadi tidak saya tampilkan, hehehe.

View dari air terjun

Dari arah air terjun ini, viewnya indah.......sekali. Terlihat tenda- tenda di seberang danau dan bukit indah yang seolah- olah seperti diding yang melindungi danau. Tidak berlebihan kalau Danau Tanralili kerap disebut 'Ranukumbolo'nya Gunung Bawakaraeng. Oh ya, Danau Tanralili ini terletak tidak jauh dari Lembah Ramma dan termasuk dalam gugusan Gunung Bawakaraeng.
sesi pemotretan para ladies sudah selesai dan para pria juga sudah memberi kode dari seberang danau supaya kami bergegas kembali karena kami akan segera pulang.

Saya dan sahabat kece saya :D

Sebelum meninggalkan Danau Tanralili, yuk mari foto team :D. Mereka adalah teman- teman saya di salah satu organisasi kampus, dan walaupun kami sudah selesai semua kuliahnya hubungan kami masih terjaga, Alhamdulillah.

Terasa singkat kebersamaan kami di danau Tanralili, tapi mau apa dikata, kami harus kembali ke Kota Makassar. Selain itu, banyak juga pendaki yang baru datang dan tempat buat camp sudah full. Kita harus berbagi menikmati keindahan alam, hehehe.

Flash back semalam saat perjalanan menuju Danau Tanralili, perjalanan pulang kita juga tidak kalah menyenangkan menikmati suguhan alam yang luarrrrrr biasa kecenya!.


Perjalanan pulang benar- benar kami nikmati karena cuaca cerah tapi tidak panas. Baru terlihat dengan jelas. Sana- sini bekas longsoran menjadi aliran sungai- sungai kecil, gunung- gunung menjulang seperti dinding dihiasi kabut yang membuat pemandangan semakin manis. Rerumputan ynag terhampar seperti permadani, rasanya ingin singgah sejenak, tapi kita harus berpacu dengan waktu. Jadi kita harus terus berjalan dan berjalan... :D

Such heavenly view

Keren sih memang pemandangannya tapi sebenarnya berbahaya karena bekas- bekas longsoran masih labil dan cukup berbahaya. Menurut saya, kalau pendakian ke Danau Tanralili semakin membludak, bisa saja jalur pendakian akan longsor, menurut saya, he he he.


Bahkan kita harus menyeberangi aliran sungai yang terbentuk dari longsoran- longsoran. Sedikit berbahaya, jadi kita harus berhati- hati dan cermat memilih pijakan agar tidak terperosok.



Sepanjang mata memandang kita melihat bekas longsoran pasir yang membentuk tekstur tersendiri yang terlihat indah di mana sungai- sungai kecil mengalirinya semakin menambah keindahan.

Jalur yang becek
Jangan hanyut dulu dengan suguhan- suguhan pemandangan indah, sekarang kita harus berbecek- becek ria. Ini toh jalur becek- becek semalam, yang terasa tapi tak terlihat dengan jelas, he he.




Selain banyak sungai- sungai kecil, di sepanjang jalan kita juga melihat  beberapa air terjun kecil tapi cukup tinggi. Sepertinya air terjun ini bersifat musiman, hanya ada saat musim hujan.


Kita sudah berjalan sejam lebih, Alhamdulillah perjalanan lancar, mungkin karena jalan kebanyakan menurun, sudah jarang menanjak jadi waktu tempuh lebih singkat daripada waktu berangkat semalam.










Potensi untuk pertambangan pasir di kawasan ini memang sangat besar, tapi kalau saja dieksploitasi, saya tidak bisa bayangkan apa yang akan terjad bila saja potensi ini dieksploitasi.


Ini air terjun terakhir yang kita jumpai sebelum sampai di perkampungan.  Sama dengan air terjun sebelumnya yang sering kita jumpai dalam perjalanan, air terjun sepertinya juga merupakan air terjun musiman yang hanya ada saat musim hujan.


Tidak terasa sampai juga kami di rumah tempat kami menitipkan kendaraan. setelah istirahat sejenak kami melanjutkan perjalanan kembali ke Kota Makassar. Walaupun cukup menguras tenaga, perjalanan ke 'Ranukumbolo'nya Gunung Bawakaraeng alias Danau Tanralili sangat menyenangkan dan penuh kejutan, sepanjang perjalanan hanya keindahan yang tampak. Danau Tanralili sekarang mulai tersohor dan menjadi destinasi favorit baru bagi para penggiat alam. Namun, jika pendakian ke Danau Tanralili tidak terkontrol, bisa saja terjadi kelongsoran. Semoga kita semakin bijak dalam 'menikmati' alam supaya bukan hanya kita yang menikmati, tapi generasi- generasi kita kelak :D.




Kamis, 30 April 2015

Daun gatal dari timur

Beberapa hari lalu waktu saya ke Ambon, kebetulan ada teman saya yang tinggal di sana. Dia mengajak saya mengunjungi kampung halaman neneknya, sebuah daerah yang merupakan 'kampungnya' para pemain sepak bola. Tulehu nama daerahnya. Konon bnayak pemain sepak bola berbakat berasal dari sini. Tulehu sendiri secara administratif terletak di Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku.

Berkendara sekitar satu jam dengan jalanan naik turun ke puncak gunung (kayak lagu anak kecil,heheh) dan hamparan laut yang begitu indah dengan pasir putih terasa menyenangkan. Apalagi saat ke Tulehu kita pasti akan melewati Pantai Natsepa yang menjadi salah satu tempat wisata terkenal di jika berkunjung ke Kota Ambon juga menjadi penyemangat tambahan. Tapi sayang saat itu saya tidak mampir ke Pantai Natsepa. Oh ya di sekitar Pantai Natsepa berjejer penjual rujak yang cukup banyak berderet. Katanya rujak di Pantai Natsepa enak lho!, sayang lagi saya tidak mencobanya,hehehhe..

Lagi dan lagi, saya hanya mengabadikan semua keindahan yang saya lalui dalam memori otak saya, terkadang saking takjubnya saya malah lupa memfoto, padahal saat itu saya pegang kamera lho!,hahahahah.

Taadaaaaaa.....akhirnya sampai juga di Salahutu. Saat memasuki Tulehu (Ibukota kecamatan Salahutu) kita akan disambut dengan tulisan,'Selamat Datang di Kampung Sepak Bola Tulehu', maaf lagi saya tidak memotretnya, tapi ada kok gambarnya di Mbah Google,heheheh.
Di sinilah tempat para pemain sepakbola bertalenta dilahirkan, di sini juga lokais syuting film Bintang dari Timur : Beta Maluku yang diperanin sama Chiko Jericho. Tapi yang mau saya bahas bukan Tulehu dan sepak bolanya, tapi Tulehu dan gaun gatalnya!.

Pasti banyak yang belum familiar dengan daun gatal kan!. Daun gatal atau yang biasa juga disebut daun salahutu oleh masyarakat lokal Tulehu konon hanya ada di timur Indonesia, yakni Maluku dan Papua. Masyarakat lokal menggunakan daun gatal ini untuk menghilangkan rasa pegal- pegal. Tapi sebelum rasa pegal hilang, terlebih dulu kita merasakan sensasi gatal dan rasa 'aneh' tertusuk- tusuk, dan bagi yang pertama kali menggunakannya seperti saya akan shock melihat efek dari daun gatal, cekidot :D

Daun gatal dari timur
Nah lho, merinding kan melihatnya. Saya sangat kaget nyaris jantungan (berlebihan ya, hehe) melihat tangan saya berubah penampakan jadi mengerikan. Di luar penampakan tangan saya yang jadi mengerikan akibat daun gatal, ada rasa nyaman yang ditimbulkan, seperti diolesi balsem atau salonpas, sejuk- sejuk gitu lah pokoknya. Semakin lama bentol- bentol di tangan saya semakin membesar, saya semakin panik dong. Tapi kata teman saya itu tandanya bentol- bentolnya sudah mau menghilang. Saya hanya berdoa dalam hati semoga bentol- bentol ini cepat enyah. Alhamdulillah, benar saja, lama kelamaan bentol- bentol ini semakin memudar :D. 

Damai selalu untukmu Ambon

Wah sudah lama blog ini tidak pernah dijenguk. Maklum wanita karir sangat sibuk belakangan ini :).
Beruntung bagi saya diberi kesempatan untuk berkunjung ke kota kecil di timur Indonesia, kota Ambon. Sebenarnya sih tujuan utamanya ke Pulau Buru, 9 jam dari kota Ambon. Tapi saya akan sedikit bercerita mengenai pengalaman saya di Kota Ambon.

Lagi dan lagi saya sangat beruntung punya teman yang tinggal di Kota Ambon, jadi lumayan ada tempat nebeng, daripada menginap di wisma atau hotel, hehehhe. Teman saya tinggal di daerah Tantui, tidak jauh dari pusat kota. Dan yang paling saya suka, tidak seperti kebanyakan tempat di Indonesia Timur yang moda angkutan umumnya sangat jarang, di Ambon ini, angkutan umum nya lancar sampai tengah malam dan melayani sampai ke pelosok sekitaran Ambon. Dan yang kerennya lagi, tarif angkot cuma 3 ribu rupiah!!!. Lumayan lah kelayapan ke mana- mana tidak usah pikir panjang. Jadinya hari itu saya putuskan akan berpelesir di pusat kota, tujuannya mau ke Tugu Perdamaian Dunia.

Karena Kota Ambon ini tidak seberapa besar, hanya beberapa menit saya sudah sampai di pusat kota. Saya memilih turun di depan Mesjid Al-Fattah. Kata teman saya dari al-Fattah akses ke mana- mana dekat dengan berjalan kaki, dan angkot yang saya naiki tidak langsung menuju Gong Perdamaian Dunia. Lumayan berjalan kaki melihat hiruk pikuk di pusat kota.

Setelah mampir makan siang di salah satu Rumah Makan Padang sekitaran Al-Fattah dan sholat azhar (makan siangnya rada telat) saya melanjutkan perjalanan ke Gong Perdamaian dengan berjalan kaki melewati kompleks ruko yang cukup sibuk dengan aktivitas perdagangan. Di sana- sini juga banyak yang menjual ole- ole khas Ambon. Sempat menyesal juga tidak jepret sana- sini, padahal banyak objek yang bisa diabadikan. Sudahlah, sudah berlalu ini.

Cukup lelah juga sampai akhirnya tiba di Gong Perdamaian Dunia. Yeayyyyyyyyy sampai juga! Kami tiba di sisi belakangnya, sempat kebingungan di mana pintu masuknya, karena saya salah jalan, akhirnya berputar baru dapat pintu masuknya, hahahha. Saya menertawai diri sendiri saking girangnya melihat Gong Perdamaian jadi tidak peduli walaupun mesti harus jalan memutar. Finally, sampai juga di pintu masuknya, eitss bayar 5 ribu dulu buat karcis masuknya.
Gong Perdamaian Dunia dari arah depan

Karena masih ada sekelompok ABG labil yang berfoto- foto di area gong, saya memilih mengalah dan mengitari taman yang mengelilingi Gong Perdamaian.


Terdapat meja- meja yang ada penutupnya seperti payung, lumayan buat nongkrong- nongkrong, sayang tidak ada kursinya.  Waktu saya datang tidak begitu ramai, hanya ada beberapa pengunjung, sekelompok ABG labil tadi dan serombongan keluarga yang sepertinya sedang piknik di taman, karena saya melihat mereka membawa perbekalan makanan,hehehhe.

Gong Perdamaian Dunia tampak samping


Gong Perdamaian Dunia dari dekat
Akhirnya sekumpulan ABG labil itu enyah juga, hehehhe. Sekarang waktunya kita mendekat dengan Gong Perdamaia. Saat mendekat pada salah satu icon Kota Ambon ini, ada rasa yang berdesir dari dalam hati saya *ttsahhhhhhh,hhahha. Pikiran saya flashback ke masa- masa beberapa tahun silam saat kota kecil ini dilanda perang akibat SARA. Pertumpahan darah, korban jiwa, pengungsi dan hal buruk lain akibat perang saudara ini terlintas dalam pikiran saya. Semoga dengan adanya Gong Perdamaian Dunia bisa membuat Kota Ambon yang sangat manise ini menjadi aman, tenteram dan damai, aamiin!!

Oh ya, Gong Perdamaian yang ada di Ambon merupakan gong ke-39 di dunia. Di Indonesia sendiri, Gong Perdamaian Dunia juga ada di Bali. Di tengah- tengah gong terdapat bola dunia dan disekelilingnya terdapat semua bendera negara- negara yang ada di dunia. Avignam jagat samagram, damailah bumi beserta isinya, aamiin!!

Puas mengamati Gong Perdamaian Dunia, saya putuskan untuk beralih ke seberang jalan, di mana terdapat gedung pusat pemerintahan Provinsi Maluku dan Kota Ambon. Sekalian cuci mata, di sana sedang ramai, banyak yang sedang berolahraga, siapa tahu ada cowok manise *maafkan aku Jake Gyllenhaal :D

Kantor Gubernur Provinsi Maluku

Kantor Walikota Ambon
Tidak salah kalau lokasi ini disebut Ambon City Center (ACC) karena semuanya benar- benar ada di sini. Lapangan yang terletak di depan Kantor Gubernur Maluku dipadati masyarakat Ambon untuk berolahraga atau sekedar santai menikmati sore. Saat saya berkunjung, ada renovasi di beberapa titik, katanya akan ada event besar di Kota Ambon, saya lupa juga event apa, heheheh.

Lapangan di depan kantor Gubernur Maluku

Tidak jauh dari lapangan bola ini, terdapat juga lapangan bola basket. Saya iseng mendekat. Tidak jauh dari situ terdapat sebuah patung yang cukup besar. Karena penasaran saya semakin mendekat ke arah patung tersebut. Sayang ada police line yang membuat saya tidak bisa bertambah dekat. Kebetulan ada petugas satpol PP yang berjaga, jadi saya bertanya kepada Pak Satpol PP, patung siapakah itu dan kenapa ada police line nya? hehehhe kepo banget ya.
Ternyata itu patung Kapitan Pattimura, salah satu pahlawan dari Maluku, saya refleks menimpali, 'Kok tidak mirip Pak dengan gambarnya yang di uang seribu?', si Bapak Satpol PP kontan tertawa. Ternyata di beri police line karena sekitaran patung akan di cat sehubungan akan diadakannya event besar yang saya maksud tadi!. Oooooooo...... kirain ada apa.

Patung Kapitan Pattimura
Rasa penasaran sudah terobati, tanya sudah terjawab, sekarang waktunya pulang. Dari beberapa kota yang saya kunjungi, Ambon salah satu tempat yang saya sukai, kota kecil dengan sejuta keindahan. Gugusan bukit dan lautan yang menghampar dihiasi kapal- kapal yang berlabuh di sana sini. Pemukiman yang bersusun rapih mengikuti kontur bukit juga menjadi hal menarik dari kota ini. Belum lagi suasana di malam hari, dari ketinggian kita bisa melihat lampu- lampu dari kota seperti bintang yang bertaburan diselingi kilau air laut, pokoknya Ambon unforgettable lah. Suatu saat saya akan kembali mengunjungimu Ambon! :D




Kamis, 26 Februari 2015

Sepotong kisah di tanah Papua

Yuhuuuuuuuuu...........akhirnya bisa curcol lagi.
Ternyata hidup tanpa jaringan internet sangat menyiksa, sangat....sangat menyiksa!.
Kemarin kan pas tahun baru saya berencana menghabiskannya di Toraja, perlengkapan segala macam sudah siap, eh pas mau berangkat tiba- tiba malas, tidak jadi deh. Pas malamnya, entah gila atau apa saya booking tiket ke Papua Barat untuk penerbangan 2 Januari 2015 dini hari.
Senang tuh kan membayangkan akan berpetualang di timur Indonesia. Sebelum berangkat kusempatkan melakukan pemeriksaan gigi dulu, walaupun akan bersenang- senang kesehatan gigi dan pagarnya harus tetap diperhatikan. Semua urusan beres, sekarang siap terbang ke Sorong, Ibukota Papua Barat.

2 jam 15 menit perjalanan cukup mendebarkan, mengingat baru saja terjadi musibah hilangnya pesawat AirAsia yang belum diketahui keberadaannya (pada saat itu). Ditambah cuaca yang sedang hujan dan ini baru pertama kali saya melakukan perjalanan udara pada dini hari. Mungkin karena sugesti jadi pikiran saya tidak tenang dan tidak menikmati perjalanan, saya coba tidur tapi tidak bisa. Apalagi pas ditengah perjalanan terbangnya pesawat seperti aneh, seperti kalau mobil berjalan di jalan yang rusak, kontan saya shock dan kembali mengingat kejadian AirAsia. Saya berserah kepada Allah, apapun yang terjadi saya siap, walaupun hati kecil saya berkata saya masih mau hidup. Alhamdulillah pesawat kembali normal dan mendarat dengan selamat di Bandara Dominique Edward Osok, Kota Sorong. Bandaranya masih kecil dengan properti ala kadarnya. Setelah mengambil barang yang dibagasikan, saya menunggu jemputan.

Oh ya di Papua Barat saya punya beberapa keluarga jadi tidak mengkhawatirkan soal tempat tinggal dan sebagainya, terjamin lah pokonya, hehehhe. Setelah beristirahat beberapa jam di Kota Sorong, saya melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Sorong Selatan, di mana tujuan saya adalah Ditsrik Teminabuan ibukota kabupaten ini. Perjalanan darat saya tempuh sekitar 5-6 jam. Sepanjang perjalanan kita disuguhi hijaunya hutan Papua Barat yang sepertinya masih terjaga. Jalanan terus mendaki dan sangat sepi, sangat jarang berpapasan dengan kendaraan lain. Saya melewati beberapa sungai besar dengan aliran air yang sangat jernih, ingin rasanya melompat ke sungai dan berenang sepuasnya. Sayang hujan turun dan juga saya sedang malas, mengambil beberapa gambar saja saya merasa malas.

Distrik Teminabuan belum begitu ramai. Kota kecil ini masih dalam tahap pembangunan, semuanya terlihat masih seperti baru. Di kota kecil ini juga sudah ada bandara yang melatani penerbangan Teminabuan - Kota Sorong, tetapi penerbangan hanya 1x seminggu, yakni pada hari sabtu. Teminabuan berada pada perbukitan, sangat jarang ditemui tanah yang benar- benar datar, rumah- rumah penduduk dibangun pada pinggiran bukit. Walaupun terletak di dataran tinggi, namun udara sangat panas (menurut saya). Saya sangat menghindari keluar rumah saat siang hari.